Waktu adalah sekuens perasaan. Sayangnya, manusia hanya dapat melihat satu arah pada rangkaian tersebut. Sekali terlewat, tidak bisa kembali barang sedikit pun.

Mungkin itu yang membuat manusia menjadi satu entitas yang kadang masih belum berani melangkah ke depan karena masih ada yang tertinggal di masa lalu. Entah itu orang, tempat ataupun hanya sekadar perasaan. Tapi itu di situ lah efek buas nya pikiran.

Perasaan yang masih terhubung dengan masa lalu perlu diperbaiki, bukan diputuskan. Perasaan yang diputuskan tanpa diperbaiki hanya akan menjadi alasan untuk kita kembali. Padahal kembali bukan lah satu pilihan yang logis. Kemudian kesenjangan pilihan yang dimiliki dengan kenyataan ini akan menjadi samsara bagi hati manusia.

Hubungan tersebut perlu dilihat dari sudut pandang objektif. Daripada menjadi tokoh utama dalam kejadian traumatik itu, mari kita kembali seolah sebagai penjelajah waktu yang diam-diam menyaksikan kejadian itu tanpa harus terlibat. Ingat, aturan dari penjelajah waktu adalah kita tidak boleh terlibat langsung dalam kejadian apapun.

Kita hanya perlu kembali untuk memahami apa yang terjadi. Menjadikan itu sebagai pengalaman yang tidak terlupakan. Mari kita pahami bahwa sebenarnya kita tidak punya kontrol apa pun terhadap hidup ini. Semua terjadi karena Tuhan telah membuat hukum-hukum alam yang akan secara otomatis menentukan konsekuensi dari keputusan apapun yang kita buat saat itu.

Pun kita tidak perlu lagi membayangkan apa yang akan terjadi jika pada waktu itu kita mengambil alternatif lain. Pada akhirnya, pilihan yang telah kita pilih pada masa itu adalah hasil terbaik dari kalkulasi semua kemungkinan yang ada. Jika pun saat ini kita masih berpikir “andai saja aku tidak memilih ini”, percaya lah jika pun kita memilih alternatif lain pikiran itu akan tetap muncul.

Akhirnya kita hanya bisa menerima dan menyerap apapun penyesalan yang sedang kita rasakan. Sebab penyesalan itu perlu diproses agar tak menjadi alasan untuk kita kembali pada rasa sakit itu lagi. Kita tidak bisa menyelesaikan apa pun masalah yang kita hadapi pada masa lalu, tapi kita selalu bisa menerima apapun yang ada pada saat ini.